IMI sampai disini

 

 

Seperti itu judul yang jeng jun berikan untuk postingan ini. IMI itu singkatan dari Immanuel Ministry Indonesia. Tanggal 1 Juni 2009 lalu genap sudah 9 tahun berdiri.  Namun tidak menyangka usia IMI hanya sampai 9 tahun saja. Kalo diitung umur manusia, IMI sudah kelas 4/5 SD tuh…

 

 

Tidak pernah mengharapkan dan menduga sebelumnya akhirnya berakhir sampai disini. Berbeda sekali dengan harapan jeng jun yang diposting di salah satu halaman di blog ini waktu lalu.

 

Ini dia

 

 

Gak bisa dipungkiri, di komunitas inilah jeng jun belajar melayani Tuhan. Banyak pengalaman-pengalaman yang menyenangkan sekaligus menyedihkan namun jeng jun diberkati dengan semuanya itu. Sebab dari situ jeng jun belajar banyak.

 

 

Awalnya berharap dengan berakhirnya IMI, semuanya akan tetap berjalan as usual and all things are normal. Indahnya jika memang seperti itu, jadi tidak perlu ada tempat untuk yang namanya “kesedihan” di batin ini.

 

 

Kenapa?!

 

 

Tidak bisa diingkari bahwa kenyataan yang terjadi saat ini tidak seperti yang jeng jun harapkan diatas. Entah kenapa jeng jun merasa adanya “perbedaan” sikap yang jeng jun rasa dari mereka. Canggung mungkin ?? Hmmm.. I think!

 

 

 

Susah bagi jeng jun untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang ada dihati tentang keputusan ini. Ada rahasia hati yang terkadang tidak bisa diutarakan dengan sebuah kalimat atau sekedar kata-kata.  But, trust me! I have the reason why I made decision.

 

 

I’ll do my best to make this “relationship” more better than now. Tapi sepertinya butuh waktu untuk mencairkan kebekuan ini. Entahlah sampai kapan 😦

 

 

Jeng jun jadi berpikir, mungkin seperti yang jeng jun rasakan sekarang inilah yang pernah dirasakan oleh orang-orang terdahulu yang mengambil keputusan sama seperti jeng jun saat ini.  Dulu jeng jun selalu tidak bisa menerima alasan kemunduran mereka. Tidak bisa jeng jun tangkap apa alasan yang benar-benar logis dari mereka yang dapat jeng jun terima. Ketidakterimaan jeng jun itulah yang membuat jeng jun membatasi diri dari mereka dan mendirikan sebuah ‘tembok’.  Berteman sih berteman… tapi lebih sekedar basi basi semata. Tetap mereka adalah orang-orang diluar “kami”.

 

 

Nampak hukum tabur -tuain berlaku saat ini. Sekarang jeng jun jadi mengerti apa yang mereka rasakan ( orang-orang terdahulu yang mundur lebih dulu) atas “perlakuan” jeng jun waktu itu.

 

 

Tapi dengan kejadian ini, jeng jun dapat suatu pelajaran berharga bahwa cobalah mengerti dan menerima pilihan yang diambil oleh seseorang. Hargai apapun pilihan mereka. Sekiranya pilihan yang mereka ambil salah, BERDOALAH  bagi mereka namun tetaplah memiliki RESPON yang benar lewat sikap dan perilaku kita. Sebab bukan BENAR atau SALAH yang penting adalah RESPON kita.

 

 

Memang terkadang kita perlu mengalami/merasakan terlebih dahulu baru bisa benar-benar mengerti akan hal itu.

 

 

 

Ada kalimat yang sering terngiang-ngiang di benah jeng jun akhir-akhir ini :

 

 

-Kita tidaklah sedang membangun “kerajaan kita”, bahkan tidak sedang membangun IMI namun kita sedang membangun Kerajaan Allah di bumi ini-

 

 

 

Disini jeng jun sedang tidak membela diri. No… bukan seperti itu! Jeng jun tetap menghargai mereka dan mereka adalah bagian dari Rancangan Allah atas hidup jeng jun.

 

 

 

Thank you very much for all your kindness during the time.  I really appreciate it all.

 

 

THANK  YOU

 

 

 

– by what you decide to do everyday you will be a good man or not –

 

 

 

 

***cup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s