Menangis

 

Hari ini jeng jun menangis lagi.

 

Seinget jeng jun ini adalah tangisan kedua jeng jun di kantor ini di depan bos jeng jun. Sebenarnya jeng jun malu juga sih kenapa terlihat tidak “kuat” gini ya sampai harus meneteskan air mata ( hmm..gak cuma netes kali ya..banjirrr). Harusnya sebagai seorang leader harus tetap “terlihat kuat” apapun yang terjadi walaupun sebenarnya di dalam tidak kuat. That’s leadership! Jeng jun malu karena kadang-kadang sisi kewanitaan jeng jun ini muncul..hiks..that’s why ya mengapa ada yang bilang seorang leader paling ideal adalah seorang laki-laki karena umumnya laki-laki itu lebih berpikir rasional ketimbang wanita yang kebanyakan menggunakan emosional(perasaan). Pernah gak melihat seorang leader laki-laki menangis di depan umum? Saya pernah melihat seorang leader wanita yang menangis di depan para bawahannya sekuat apapun dia mencoba tapi tetap saja menangis juga.

 

Kecewa, sedih dan iba menjadi perasaan yang bercampur aduk di hati jeng jun dan akhirnya tak dapat menahan tangis ini.  KECEWA, karena kepercayaan jeng jun terhadap mereka disalahgunakan. Jeng jun menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada mereka makanya jeng jun berani fight ke atas. Jeng jun kira mereka sudah mencerna baik-baik warning jeng jun ketika briefing waktu itu. SEDIH, karena ternyata hampir semua dari mereka saling men-support untuk melakukan hal tidak baik itu.  Jeng jun sedih karena mereka yg tetap berjalan lurus akhirnya harus juga merasakan karena semua harus di review dan terpending tidak ditandatangani. IBA, karena untuk mendapatkan “lebih” mereka harus berbuat seperti itu. Jeng jun iba karena ketidaksetaraan ini membuat mereka berpikir melakukan hal itu. Jeng jun sedih sekali karena apapun alasan mereka melakukan hal tersebut adalah tidak dibenarkan.

 

If you can’t be positive, at least stay quiet…

 

Yes…I’ll do it now ( mau silent dulu ya untuk sementara daripada nantinya berespon tidak benar)

 

 

God…I surrender all. Love YOU much

 

 

***cup

 

 

 

Happy New Year

Hi happy new year ya 🙂

 

Sudah seharusnya tahun yang baru dijalani dengan semangat yang baru, harapan yang baru dan paling tentu kebiasaan baik yang baru. Karena kebanyakan orang ditahun baru memiliki harapan baru namun tetap dengan kebiasaan lama mereka (yg tidak baik-red).

 

Baiklah, hari pertama jeng jun masuk kerja sedikit “sedih” melihat hasil yang tertera disana yaitu hasil penilaian jeng jun selama setahun kemarin.  Jeng jun akui memang ada point dimana jeng jun tidak achieve target.  Tapi sebenarnya dari hati jeng jun yang paling dalam ( uhuii..) jeng jun berharap di proses normalisasi. Tapi ternyata nasi sudah menjadi bubur ..eh..stop..stop..nampaknya pribahasa tersebut gak pas deh..hehe..maksud jeng jun ya sudahlah jeng jun terima saja dan harus lebih baik lagi bekerja di tahun ini.

 

Oia..kalian sudah pada buat Resolusi untuk tahun 2013 belum? Kalau jeng jun sudah dong :D. Sebenarnya ini sudah jadi kebiasaan jeng jun sejak tahun 2007.  Jeng jun selalu membuat resolusi di akhir tahun untuk tahun yang akan baru. Biasanya jeng jun menuliskan resolusi tersebut disebuah buku yang jeng jun sebut “Dream Book”. Resolusi itu sendiri jeng jun bagi menjadi 3 yaitu Resolusi Rohani, Keluarga dan Pribadi. Sejak jeng jun menikah tahun 2009, jeng jun membuat “Dream Book” berdua bersama dengan suami. Selain berusaha untuk mencapainya harus juga berdoa agar Tuhan berkenan menjawab mimpi2 kita itu 😉

 

Udah yah….

 

 

***cup